RSS

:: TES & TEKNOLOGI – Laporan Radiasi (24/04/2007 10:01) Penulis : CHIP Online

08 Jul

Radiasi di Sekitar Kita
Gangguan tidur, sakit kepala, sampai risiko kanker. Benarkah radiasi mengundang penyakit? Atau, semuanya hanya kepanikan belaka? Dalam artikel ini CHIP mengungkap hasil penelitian terbaru.

Telepon seluler (ponsel) sudah menjadi bagian hidup kita. Apalagi bagi kebanyakan anak dan remaja, perangkat ponsel dalam saku celana adalah pendamping setia. Akan tetapi, banyak kalangan yang mengkhawatirkan keberadaan tiang pemancar radio bergerak. Mereka takut akan akibat negatif dari radiasi. Menurut sebuah jajak pendapat, cukup banyak orang yang mengkhawatirkan risiko kesehatan akibat tiang-tiang tersebut. Padahal, beban radiasi perorangan akibat menara ini jauh lebih kecil dibanding ketika bertelepon dengan ponsel. Fakta juga menunjukkan bahwa semakin banyak tiang terpasang, semakin rendah radiasi langsung ke telinga.

Akibat pemberitaan di media massa, ketakutan terhadap pemancar permanen seperti perangkat telepon tanpa kabel dan W-LAN di rumah juga meningkat. Kekhawatiran semakin besar ketika para dokter dan ilmuwan berdebat, sebahaya apa sebenarnya radiasi radio bergerak. Setiap tahun dipublikasikan hasil penelitian baru yang memberi pengetahuan mengenai bahaya radiasi.
PENGETAHUAN DASAR
Radiasi frekuensi tinggi

Setiap perangkat listrik memancarkan radiasi dan akan membentuk medan listrik serta magnetik. Kedua jenis medan ini saling terkait. Setiap arus listrik menimbulkan medan magnet dan berlaku pula sebaliknya. Oleh karena itu, bisa juga disebut radiasi elektromagnetik dan intensitasnya disebut ‘Kepadatan arus daya?’ dengan satuan Watt/m2 (lihat gambar kiri).

Radiasi elektromagnetik, terutama bervariasi dalam satuan frekuensi. Medan dengan frekuensi di bawah 100 kHz disebut radiasi frekuensi rendah, 100 kHz-100 GHz radiasi frekuensi tinggi dan di atasnya disebut radiasi optis dalam bentuk cahaya inframerah, cahaya tampak, dan ultraviolet.

Sama seperti tingkat frekuensi, efek radiasi pada manusia juga bervariasi. Apabila frekuensi rendah mampu menembus tubuh manusia, pada frekuensi tinggi, daya tembusnya semakin berkurang seiring semakin tinggi frekuensi radiasinya.

Dalam praktiknya, frekuensi rendah adalah produk sampingan dari perangkat elektronik, seperti TV. Sebaliknya radiasi frekuensi tinggi sengaja dibuat secara teknis untuk tujuan tertentu, misalnya pada perangkat ponsel dan microwave.

HASIL PENELITIAN
Dari ‘tidak berbahaya’ hingga risiko tumor dan kerusakan gen

Penggunaan radio bergerak frekuensi tinggi di dunia menimbulkan perdebatan di kalangan pakar: Apakah radiasi frekuensi tinggi mengandung risiko kesehatan bagi manusia? Pakar yang kritis mengatakan “ya”. Pendapat mereka disokong dengan bukti bahwa semakin banyak orang mengeluhkan gangguan tidur, sakit kepala atau ‘tidak enak badan’ secara umum.

Masalah-masalah kesehatan ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan efek termalnya saja (pemanasan jaringan tubuh manusia akibat radiasi frekuensi tinggi). Efek yang jauh lebih buruk seperti menimbulkan kanker juga dituduhkan pada radiasi frekuensi tinggi.

Sejumlah penelitian besar telah dilakukan untuk menggali bukti-bukti penting. WHO pun turun tangan dengan melakukan riset. Jajak pendapat yang dilakukan oleh Interphone di bawah payung WHO ini dilakukan di 13 negara dengan jumlah responden 15.000 orang.

Akhir Januari lalu para peneliti di Jerman mempublikasikan hasil mereka. Kesimpulannya: Ponsel dan telepon DECT tidak meningkatkan risiko tumor ganas walau digunakan setiap hari secara intensif. Seringnya penggunaan maupun dekatnya jarak ke base station DECT (misalnya di sisi tempat tidur) tidak akan mempengaruhi jumlah penderita kanker.

Dalam hasil penelitian di negara lain yang telah lebih dulu dipublikasikan, para ilmuwan sampai pada kesimpulan yang sama. Ini menumbuhkan harapan bahwa radiasi frekuensi tinggi tidak memiliki efek penimbul kanker pada manusia.

Memang, kemungkinan peningkatan risiko tumor pada mereka yang menggunakan ponsel secara intensif sejak 10 tahun belakangan tidak dapat diabaikan. Namun telepon jaringan C yang umum digunakan 10 tahun lalu memiliki intensitas radiasi yang lebih tinggi dibandingkan ponsel modern jaringan D dan E. Oleh karena itu, hasil tersebut dalam kaitannya dengan beban radiasi masa kini lebih merupakan alasan yang melegakan.

Pada pertengahan tahun ini, semua hasil penelitian dari setiap negara akan digabungkan. Jumlah responden yang sangat besar akan memberi kesimpulan yang lebih dapat diandalkan.

Hasil penelitian nova-Institut ‘Observasi beban EMVU akibat W-LAN’ di Huerth, Jerman, pada tahun 2004 jugamenunjukkan bahwa beban radiasi akibat penggunaan jaringan secara intensif jauh lebih kecil daripada yang selama ini dikhawatirkan. Bahkan, tingkat radiasi di dekat sebuah Access Point hanya sebesar 0,0025 W/m2. Nilai tersebut hanya 0,025% dari nilai batas maksimal.

“Risiko tumor untuk kelompok penduduk di sekitar stasiun TV telah meningkat hampir 3 kali lipat.“ Dr. Hort Eger, Kepala Penelitian Radio Bergerak di Naila

Penelitian lain seperti yang dilakukan sekelompok dokter dari Naila di Franken, Jerman, tahun 2004 mencapai hasil yang berbeda. Mereka berkesimpulan bahwa risiko tumor di dekat tiang pemancar radio bergerak lebih tinggi 2,35 kali.

Namun beberapa faktor mengurangi relevansi penelitian tersebut. Jumlah kasus penderita yang hanya 34 orang pun dinilai terlalu sedikit, pemilihan 967 responden sangat tidak spesifik dan penyebab kanker lainnya sama sekali tidak diperhitungkan. Tentu saja, hasil penelitian ini tidak bisa diabaikan, tetapi dari sudut pandang ilmiah, kurang berarti.

Para dokter dari Naila tidak sendirian, Asosiasi Penelitian REFLEX pada tahun 2005 telah membuktikan di 11 laboratorium bahwa gelombang radio bisa menyebabkan kerusakan gen pada kultur sel tertentu. Pengukuran dilakukan dengan intensitas radiasi setara percakapan telepon yang berefek pada kepala.

Prof.Dr. Adlkofer, koordinator program yang didukung Uni-Eropa tersebut mengatakan sendiri, percobaan dalam tabung reaksi tidak dapat ditransfer ke mahluk hidup. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menyimpulkan risiko radiasi pada manusia.

Baru-baru ini, sebuah riset dalam rangka ‘Program Penelitian Radio Bergerak’ telah dilakukan di Jerman. Penelitian ini akan mengorek pengurangan kualitas tidur akibat radio bergerak. CHIP akan terus memberitakan mengenai penelitian ini.

NILAI BATAS
Hanya melindungi dari bahaya yang telah terbukti

Pihak terkait dari pemerintah tentu harus melindungi warganya. Akan tetapi mereka hanya bisa meredam bahaya yang telah terbukti, misalnya dengan menetapkan nilai batasan hukum yang ketat. Hingga kini, yang jelas terbukti baru efek termal radiasi. Efek ini menyebabkan suhu tubuh manusia meningkat 1 derajat Celsius atau kurang, dan menurut mereka ini tidak berbahaya bagi kesehatan.

Selain itu daya tembus radiasi ke dalam tubuh juga penting. Semakin tinggi frekuensi radiasi, semakin rendah daya tembusnya. Pada ponsel dalam jaringan D 900 MHz, radiasi masuk hingga 2,5 cm, sementara pada jaringan E 1.800 MHz, hanya 1 cm.

Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan misalnya, tidak menetapkan batas umum. Mereka menetapkan nilai batas yang berbeda-beda untuk setiap frekuensi. Dengan bantuan kalkulator, batasan-batasannya bisa mudah dihitung. Frekuensi x 0,0050875 = nilai batas [Watt/m2]. Untuk sumber radiasi frekuensi tinggi, nilai tersebut antara 2-10 Watt/m2. Untuk 2 GHz ke atas, ditetapkan nilai maksimal 10 Watt/m2.

Idealnya perlu dibentuk sebuah lembaga yang mengawasi agar ketentuan nilai-nilai batas tersebut terpenuhi. Dengan demikian efek termal perangkat yang diijinkan beredar di konsumen tidak perlu ditakuti. Namun belum ada ketentuan mengenai nilai batas untuk efek non-termal.
Lihat keterangan Dosis Radiasi di Sekitar kita

SAR: Intensitas Radiasi Ponsel

Tahun 2001 semua produsen utama telah menyepakati sebuah proses pengukuran untuk menentukan beban radiasi dari ponsel yang disebut SAR (Specific Absorption Rate). Nilai ini menunjukkan intensitas radiasi dalam satuan Watt, yang dipancarkan sebuah ponsel ke dalam kepala pada power transmisi maksimal. Intensitas ini dibagi dengan berat tubuh manusia.

Oleh karena pengukuran realistis dalam kepala manusia tidak dapat dilakukan, digunakan sebuah kepala buatan yang disebut ‘Phantom’. Di dalamnya terdapat sensor-sensor yang mencatat radiasi ponsel. Dalam interval waktu 6 menit, radiasi maksimal dikonversi menjadi nilai SAR. Semakin rendah nilai SAR, semakin lemah radiasi yang dipancarkan ponsel dalam kasus ekstrem. Jika nilai ini di bawah nilai batas yang ditentukan (2,0 W/kg untuk bagian tubuh termasuk kepala atau 0,08 W/kg untuk seluruh tubuh), model ponsel tersebut baru boleh dipasarkan.


Pengukuran Sar: Pada kepala Phantom tampak betapa intensitas radiasi terpusat pada telinga. Namun ‘telinga panas’ bukan disebabkan oleh radiasi, melainkan akibat baterai ponsel yang panas atau ponsel ditekan terlalu kuat pada telinga.

Sertifikasi lingkungan ‘Blue Angel’ mensyaratkan nilai yang lebih ketat. Di sini nilai SAR harus berada di bawah 0,6 W/kg. Setidaknya 30% model ponsel yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan ini.

Tips: Mengurangi polusi elektromagnetik
Bagaimanapun juga, akan lebih baik jika sedapat mungkin kita menghindari kemungkinan radiasi elektromagnetik. Beberapa tips berikut bisa Anda ikuti.

Sumber radiasi ponsel: Hindari percakapan bila penerimaan buruk, karena ponsel akan mengirim sinyal dengan tenaga maksimal untuk mencapai tiang relay.

»Bicara singkat dan jelas. Percakapan yang lama meningkatkan radiasi dalam kepala. Jika perlu gunakan sms, waktu kirim singkat dan radiasi tidak mengarah ke kepala.

»Jangan bertelepon dalam mobil. Rangka mobil dapat memantulkan sinyal. Untuk mengatasinya ponsel harus mengirim sinyal lebih kuat dan berarti meningkatkan beban radiasi.

»Gunakan handsfree. Headset bluetooth radiasinya lebih rendah dibanding tanpa headset. Lebih baik lagi menggunakan handsfree dengan kabel.

»Ketika membeli ponsel perhatikan agar nilai SAR-nya serendah mungkin di bawah 1,0 W/kg seperti pada banyak model baru. Sebagai perbandingan sertifikasi lingkungan ‘Blue Angel’ mengijinkan hingga 0,6 W/kg.

Sumber radiasi telepon DECT: Singkirkan base-station (yang tetap memancar sinyal dalam kondisi standby) dari dekat Anda. Sebaiknya letakkan di lorong ruangan. Jika ingin membeli yang baru, pilihlah model yang berhenti memancar sinyal ketika unit terkoneksi dengan telepon.

Sumber radiasi W-LAN: Matikan Access Point bila tidak digunakan. Jika terlalu merepotkan, banyak perangkat yang menawarkan pilihan untuk mengurangi intensitas power transmisi.
Sumber radiasi gelombang mikro: Jangan menatap piringan dalam microwave saat bekerja. Walaupun hanya makanan yang perlu dipanaskan, tanpa sengaja radiasi juga bisa terpantul keluar. Semakin jauh Anda berada, semakin baik.

Sumber radiasi TV: Jagalah jarak menonton Anda. Duduk terlalu dekat pesawat TV tidak hanya buruk bagi mata, tetapi juga meningkatkan radiasi yang terserap tubuh.

KESIMPULAN CHIP : Kerusakan akibat polusi elektromagnetik belum terbukti

Walau media massa senang membuat panik, hasil rangkaian pengukuran saat ini berbicara lain. Intensitas radiasi frekuensi tinggi langsung pada perangkat sumbernya masih jauh di bawah nilai batas, hanya seperseratusnya! Hampir semua perangkat, seperti Access Point untuk W-LAN dan bluetooth atau base-station DECT bahkan memenuhi persyaratan dari nova-Institut, dan hanya 1% dari batas yang ditetapkan pemerintah. Di sini efek samping yang secara ilmiah belum terbukti pun sudah diperhitungkan. Akan tetapi, kemungkinan ilmiah risiko kesehatan akibat radiasi juga tidak dapat ditutup. Oleh karena itu, dalam boks kiri CHIP memberikan tip-tip efektif untuk mengurangi polusi elektromagnetik di lingkungan pribadi Anda.

ALAMAT WEB PENTING
http://www.bfs.de/bfs?setlang=en
Dasar-dasar penelitian polusi elektromagnetik
http://www.fcc.gov/cgb/sar/
Berapa nilai SAR ponsel Anda?
http://imagine.gsfc.nasa.gov/docs/science/know_l1/emspectrum.html
Polusi elektromagnetik
http://www.verum-foundation.de/cgi-bin/content.cgi?id=english
Semua hasil penelitian REFLEX

Source : CHIP 05 2006
Author : Gusdiharto.Pratomo@chip.co.id Gusdiharto.Pratomo@chip.co.id

sumber :
http://www.chip.co.id/chipmk2/index.php?option=com_content&task=view&id=1838&Itemid=80&limit=1&limitstart=0

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Juli 2007 in PTI

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: